Pelet kayu atau dikenal dengan wood pellet merupakan biofuel yang terbuat dari serat kayu yang telah terkompresi. Selain serat kayu, berbagai residual dari proses penggergajian juga dapat menjadi bahan baku pembuatan pelet kayu. Bahan pembuatan pelet kayu berasal dari bermacam-macam jenis kayu sehingga memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Bagaimana Proses Pembuatan Pelet Kayu?
Sebelum membahas tentang karakteristik pelet kayu, mari cari tahu proses pembuatannya terlebih dahulu.
Proses pembuatan pelet kayu diawali dengan mengurangi kadar airnya. Pertama-tama, menghilangkan kelembapan yang masuk dalam serat kayu. Kemudian menggilingnya sampai menjadi debu atau serbuk dan setelahnya memampatkan debu menjadi silinder kecil.
Setelah langkah-langkah tersebut selesai, selanjutnya adalah kompresi. Panas yang diterapkan dalam proses ini menyebabkan lignin—polimer alami yang ditemukan dalam kayu—bertindak sebagai lem untuk menyatukan partikel-partikel yang terkompresi.
Jika sudah melewati langkah-langkah di atas, hasilnya adalah pelet kayu yang kering, sangat terkompresi, dan berkalor tinggi. Pelet kayu pun dapat dengan mudah dipakai bahkan diangkut untuk diekspor dalam jarak yang sangat jauh. Ekspor pelet kayu memiliki peluang yang besar, loh! Ketahui selengkapnya di artikel Kenali Pasar dan Tren Ekspor Pelet Kayu!
Bahan Baku dan Karakteristik Pelet Kayu
Indonesia merupakan negara tropis dengan curah hujan yang tinggi. Menjadikannya ditumbuhi berbagai pohon di banyak daerah. Hal tersebut membuat persediaan bahan baku pelet kayu melimpah. Berikut adalah bahan yang kerap digunakan beserta karakteristiknya.
1. Pemangkasan Teh
Pada budidaya teh, pemangkasan umumnya dilakukan untuk mempertahankan pertumbuhan vegetatif dari tanaman teh. Kegiatan pemangkasan tersebut menghasilkan biomassa yang cukup besar. Berdasarkan Pusat Penelitian Teh dan Kina, hasil potensi limbah pangkasan dapat mencapai sekitar 23.750 kg/ha, yang terdiri dari 77% ranting dan 23% daun.
Hasil pelet kayu dari limbah pangkasan teh dengan ukuran mesh 18, memiliki nilai kalor 4,431 kal/g dengan kadar air 8,64% dan kerapatan 1,54 gr/cm3. Hubungan antara kerapatan dan nilai kalor menunjukkan kandungan energi per volume. Apabila kandungan kerapatan naik maka kandungan energi per volume akan naik juga.
2. Limbah Kayu Jati
Besarnya produksi kayu olahan dari industri penggergajian tahun 2013 menurut data Kementerian Kehutanan, yaitu sebesar 3.330.530 diperkirakan limbah dalam bentuk serbuk gergaji sebesar 666.106 m3. Salah satu limbah penggergajian adalah limbah gergaji kayu jati.
Nilai kalor tertinggi dengan ukuran mesh 20-40, yaitu 4459,236 kal/g dengan kadar air 10,352% dan kerapatan 0,804 gr/cm3.
3. Kayu Sengon
Memiliki sifat yang cepat tumbuh, kayu sengon kerap dipilih menjadi bahan baku pembuatan pelet kayu. Akan tetapi, bahan ini memiliki nilai kalor yang rendah sehingga harus dicampur dengan bahan lainnya seperti tempurung kelapa.
Pelet kayu terbaik dihasilkan pada kombinasi serbuk sengon dan tempurung kelapa 50%:50% dengan ukuran mesh 60-80, dan tekanan kempa 100 kg/cm2. Hasilnya mengandung kadar abu 1,02%, kadar N (nitrogen) 0,38%, kadar S (sulfur) 0,05%, dan nilai kalor 5177,04 kal/g.
4. Pohon Karet
Nilai ekonomis kayu karet berada pada kemampuannya menghasilkan getah. Hal tersebut membuat bahan ini berpotensi luas. Terlebih, terdapat sebaran karet tua atau karet yang produktif. Karet yang tidak produktif tersebut dapat diolah menjadi pelet kayu agar menjadi produk yang ramah lingkungan.
Hasil pelet kayu dari pohon karet rata-rata memiliki nilai kalor sebesar 4141,52 kal/g, kadar air 7,28%, dan kerapatan 0,9 gr/cm3. Kesimpulannya bahan ini sangat layak untuk diolah jika perbandingannya terhadap standar mutu pelet kayu dari berbagai negara seperti Jerman, Korea, dan Amerika.
Setelah membaca ulasan di atas, kamu juga perlu mengenali manfaat dari karakter pelet kayu tersebut. Ternyata, pelet kayu bukan hanya berguna sebagai pengganti bahan bakar fosil saja, loh!
Penasaran? Yuk, baca artikel selanjutnya mengenai Manfaat Pelet Kayu Sebagai Bahan Alternatif!
